Tampilkan postingan dengan label hilal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hilal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Juni 2014

HILAL TERLIHAT DI SUATU NEGERI

�� FATAWA RINGKAS
SEPUTAR PUASA��

Bersama: Syaikhuna Abdurahman Al 'Adeni --hafizhahullah--

��bagian keempat��

�� APAKAH JIKA HILAL RAMADHAN TERLIHAT DI SUATU NEGARA WAJIB BAGI NEGARA YANG LAINNYA IKUT BERPUASA

. Apabila disuatu negara telah melihat hilal, apakah wajib bagi negara yang lainnya ikut berpuasa?

Jawab: Jika negara satu dengan yang lainnya saling berdekatan maka satu rukyah, namun jika saling berjauhan maka masing-masing negara memiliki rukyah sendiri-sendiri. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh madzhab Syafi'iyah, sebagian madzhab Hanafiyah dan pendapat juga dipilih oleh Imam Ahmad, Ibnul 'Arabi, Syaikhul Islam dan ulama yang lainnya.

��Dalilnya adalah:

��Pertama: Firman Allah ta'ala:

{فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ}

"Barangsiapa yang telah menyaksikan bulan (Ramadhan) maka berpuasalah"
[Al Baqoroh:185]

Allah ta'ala memerintahkan berpuasa ketika telah melihat hilal.

��Kedua: Hadits Kuraib:

عَنْ كُرَيْبٍ، أَنَّ أُمَّ الْفَضْلِ بِنْتَ الْحَارِثِ، بَعَثَتْهُ إِلَى مُعَاوِيَةَ بِالشَّامِ، قَالَ: فَقَدِمْتُ الشَّامَ، فَقَضَيْتُ حَاجَتَهَا، وَاسْتُهِلَّ عَلَيَّ رَمَضَانُ وَأَنَا بِالشَّامِ، فَرَأَيْتُ الْهِلَالَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، ثُمَّ قَدِمْتُ الْمَدِينَةَ فِي آخِرِ الشَّهْرِ، فَسَأَلَنِي عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، ثُمَّ ذَكَرَ الْهِلَالَ فَقَالَ: مَتَى رَأَيْتُمُ الْهِلَالَ؟ فَقُلْتُ: رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَقَالَ: أَنْتَ رَأَيْتَهُ؟ فَقُلْتُ: نَعَمْ، وَرَآهُ النَّاسُ، وَصَامُوا وَصَامَ مُعَاوِيَةُ، فَقَالَ: " لَكِنَّا رَأَيْنَاهُ لَيْلَةَ السَّبْتِ، فَلَا نَزَالُ نَصُومُ حَتَّى نُكْمِلَ ثَلَاثِينَ، أَوْ نَرَاهُ، فَقُلْتُ: أَوَ لَا تَكْتَفِي بِرُؤْيَةِ مُعَاوِيَةَ وَصِيَامِهِ؟ فَقَالَ: لَا، هَكَذَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

"dari Kuraib bahwasanya; Ummul Fadhl binti Al Harits mengutusnya menghadap Mu'awiyah di Syam. Kuraib berkata; Aku pun datang ke Syam dan menyampaikan keperluannya kepadanya. Ketika itu aku melihat hilal awal Ramadhan pada saat masih berada di Syam, aku melihatnya pada malam Jum'at. Kemudian aku sampai di Madinah pada akhir bulan. Maka Abdullah bin Abbas bertanya kepadaku tentang hilal, ia bertanya, "Kapan kalian melihatnya?" Aku menjawab, "Kami melihatnya pada malam Jum'at." Ia bertanya lagi, "Apakah kamu yang melihatnya?" Aku menjawab, "Ya, orang-orang juga melihatnya sehingga mereka mulai melaksanakan puasa begitu juga Mu'awiyah." Ibnu Abbas berkata, "Akan tetapi kami melihatnya pada malam Sabtu. Dan kami pun sekarang masih berpuasa untuk menggenapkannya menjadi tiga puluh hari atau hingga kami melihat hilal." Aku pun bertanya, "Tidakkah cukup bagimu untuk mengikuti rukyah Mu'awiyah dan puasanya?" Ia menjawab, "Tidak, beginilah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada kami." [HR. Muslim]

��Ketiga: Karena masing-masing negara berbeda-beda dalam waktu puasa, waktu sahurnya dan berbukanya pada setiap harinya, dan juga berbeda pula dalam waktu shalatnya. Maka demikian juga dalam permasalahan menentukan hilal. Ini adalah pendapat yang mencocoki dalil dan juga secara akal atau kenyataan.

. Apabila suatu negara salah menentukan hilal dan mengetahuinya diakhir Ramadhan, karena hari dalam satu bulan tidak akan kurang dari 29 hari, apakah yang harus mereka lakukan?

Jawab: Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan Ijma' bahwa wajib atas seluruh kamu muslimin yang puasanya kurang dari 29 hari karena kesalahan tersebut untuk mengqadhanya. Misalnya Yaman mulai berpuasa pada hari selasa, sedangkan Saudi pada hari senin. Ternyata ketika hilal Syawal muncul menjadikan bulan Ramadhan hanya 29 hari saja, berarti penduduk Yaman hanya berpuasa 28 hari saja. Ini menunjukan mereka salah dalam menentukan awal hari mereka berpuasa. Maka wajib atas pemerintah Yaman mengumumkan kesalahan tersebut dan wajib atas penduduk Yaman untuk mengqadha hari yang mana mereka tidak berpuasa karena kesalahan tersebut.

 WALLOHU A'LAM BISH SHOWAAB

✏ Ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 22 Syakban 1435/20 Juni 2014_di Darul Hadits Al Fiyusy_Harasahallah.

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
 WA. FORUM KIS

Kamis, 19 Juni 2014

PENENTUAN HILAL 2

�� FATAWA RINGKAS
SEPUTAR PUASA��

Bersama: Syaikhuna Abdurahman Al 'Adeni –hafizhahullah--

��bagian kedua��

�� PERMASALAHAN SEPUTAR HILAL RAMADHAN 

. Bagaimana hukum orang yang melihat hilal Ramadhan sendirian dan kemudian bersaksi kepada pemerintah bahwa dia telah melihat hilal ramadhan, namun ternyata persaksiannya tidak diterima, apakah wajib bagi dia berpuasa?

Jawab: Didalam masalah ini ada dua pendapat. Namun pendapat yang kuat adalah wajib bagi dia berpuasa meskipun kaum muslimin yang lainnya belum berpuasa. Ini adalah pendapat yang dipilih jumhur ulama. Dalilnya adalah:

��Dalil pertama: Firman Allah Ta'ala;

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمْ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

"Barangsiapa telah menyaksikan hilal (Ramadhan) maka berpuasalah" [QS. Al Baqoroh: 185]

Dari ayat ini menunjukan bahwa barangsiapa yang telah melihat hilal maka wajib bagi dia berpuasa.

��Dalil kedua: Keumuman hadits Abu Hurairah;

«صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ ، وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ»

"Berpuasalah jika kalian melihat hilal (Ramdhan) dan berbukalah  jika kalian melihat hilal (Syawal)." [HR. Al Bukhari – Muslim]

��Dalil ketiga:

Dia telah yakin dengan hilal yang dia lihat bahwa Ramadhan telah masuk. Maka wajib bagi dia berpuasa.

�� FAEDAH:

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa tidak wajib bagi dia berpuasa, namun wajib bagi dia harus mengikuti mayoritas kaum muslimin maka mereka berdalil dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh At Tirmidzy. Namun pendapat tersebut telah dijawab oleh Al Imam Al Khathaaby. Penjelasan lebih lanjut silahkan lihat Nailul Authar – Kitab As Shiyam!

. Bagaimana jika dia melihat hilal Syawal sendirian dan dia yakin sekali kalau apa yang dia lihat itu adalah hilal Syawal, dia berusaha menghubungi kaum muslimin yang lain, ternyata mereka tidak melihatnya. Apakah wajib bagi dia berbuka karena sudah masuk Syawal?

Jawab: Dalam masalah ini ada dua pendapat, namun pendapat yang kuat dari dua pendapat tersebut adalah dia tidak boleh berbuka baik berbuka secara terang-terangan di depan kaum muslimin maupun berbuka secara sembunyi-sembunyi. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Jumhur ulama.

��Dalilnya adalah: Syarat diterimanya persaksian hilal Syawal adalah harus dua orang atau lebih, sedangkan dia hanya melihat sendirian. Maka tidaklah boleh dia berbuka, karena tidak memenuhi syarat secara syariat. Karena syariat mempersyaratkan dalam persaksian hilal syawal adalah harus dua orang. Silahkan lihat kembali pertanyaan kedua pada fatawa ringkas bagian pertama yang telah lalu!

 WALLOHU A'LAM BISSHOWAB

✏ Ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 20 Syakban 1435/18 Juni 2014_di Darul Hadits Al Fiyusy_Harasahallah.

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
 WA. FORUM KIS

PENENTUAN HILAL

�� FATWA RINGKAS
SEPUTAR PUASA ��

Bersama: Syaikh Abdurahman Al 'Adeni

��bagian pertama��

PERSAKSIAN DALAM MENENTUKAN HILAL RAMADHAN DAN SYAWAL��

. Apakah  diterima persaksian satu orang dalam menentukan rukyah hilal bulan Ramadhan?

Jawab: Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Adapun pendapat yang paling kuat adalah pendapat Jumhur ulama, yaitu diterimanya persaksian satu orang yang telah melihat hilal Ramadhan. Dalilnya adalah hadits Ibnu 'Umar:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : «تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ».

"Kaum muslimin saling berusaha melihat hilal. Maka aku kabarkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bahwasannya aku melihat hilal. Maka Nabi shalallahu 'alaihi wasallam berpuasa serta memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa." (HR. Abu Dawud dan Ad Daruquthny-sanadnya hasan, dishahihkan Syaikh Al Albani dan Muqbil) 

Tidaklah dipersyaratkan dalam persaksian melihat hilal Ramadhan harus laki-laki merdeka. Diterima pula persaksian dari satu orang perempuan dan juga seorang budak.

Yang dipersyaratkan adalah dia orang yang adil (jujur dan takwa) dan mukallaf. Mukallaf adalah muslim yang berakal dan sudah baligh, baik laki-laki maupun perempuan. Sehingga apabila datang anak kecil bersaksi: "aku telah melihat hilal" maka persaksian anak kecil tersebut tidaklah diterima karena belum mukallaf. Persaksian orang gila juga tidaklah diterima karena dia tidak berakal. Kemudian orang asing yang tidak diketahui kejujurannya, apakah dia orang fasik, karena persaksian orang fasik tidaklah diterima, karena syaratnya adalah harus orang yang adil (jujur dan takwa).

. Apakah  diterima persaksian satu orang dalam menentukan rukyah masuknya bulan Syawal?

Jawab: Para ulama juga berbeda pendapat dalam masalah ini. Namun pendapat yang paling kuat adalah dipersyaratkan dalam menentukan hilal 'Idul Fitri (bulan Syawal) adalah harus dua orang yang adil. Ini adalah pendapat yang dipilih kebayakan para ulama. Dengan dalil:

عَنْ أَمِيرِ مَكَّةَ الْحَارِثِ بْنِ حَاطِبٍ قَالَ : وفيه «فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا».

"Dari Amir Makkah Al Harits bin Hathib: "Dahulu di zaman Nabi shallallahu 'alaihi wasallam apabila kita tidak melihat hilal dan ada dua orang yang adil bersaksi (telah melihat hilal 'Idul Adha) maka kita sembelih kurban kita dengan persaksian mereka. (HR. Abu Dawud dan Ad Daruquthny-sanadnya hasan, dishahihkan Syaikh Al Albani)
 
عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ: كَتَبَ إِلَيْنَا عُمَرُ وَنَحْنٌ بَخَانِقِينَ: "إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلَالَ نَهَارًا فَلَا تُفْطِرُوا حَتَّى يَشْهَدَ رَجُلَانِ أَنَّهُمَا رَأَيَاهُ بِالْأَمْسِ.

"Dari Abu Wa'il: Bahwa Umar_radhiyallohu 'anhu  mengirimkan risalah dan kami berada di daerah Khoniqoin:"Apabila kalian telah melihat hilal di siang hari maka janganlah kalian berbuka (puasa) sampai ada dua orang yang bersaksi bahwasanya mereka telah melihat hilal kemarin". (HR Abdurazaq, Ibnu abi Syaebah, Ad Daruqthny dan Al Baihaqy-sanadnya shohih, dishahihkan Syaikh Abdurahman Al Adeni)

عَنْ أَبِي عُمَيْرِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ عُمُومَةٍ لَهُ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَكْبًا جَاءُوا إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَشْهَدُونَ أَنَّهُمْ رَأَوْا الْهِلَالَ بِالْأَمْسِ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يُفْطِرُوا وَإِذَا أَصْبَحُوا أَنْ يَغْدُوا إِلَى مُصَلَّاهُمْ.

"Rombongan shahabat datang berkendaraan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, mereka bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal (Syawal) kemarin. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kaum muslimin untuk berbuka dan jika telah tiba esok pagi hari hendaknya mereka bersegera menuju mushola (lapangan untuk sholat Ied). (HR. Abu Dawud, An Nasai, Ibnu Majah-Sanadnya Shohih, dishahihkan Syaikh Al Albani dan Muqbil)

Dalam hadist-hadist tersebut menunjukan bahwa dipersyaratkanya dua saksi dalam persaksian menentukan hilal Syawal,  tidak cukup dengan satu orang.

 PERINGATAN:

Hilal Syawal dan hilal pada bulan yang lainnya - selain Ramadhan - dipersyaratkan dalam syariat Islam harus disaksikan oleh dua orang atau lebih.

Wallahu a'lam bish shawab.

✏ Ditulis oleh Abu 'Ubaidah Iqbal bin Damiri Al Jawi, 13 Syakban 1435/11 Juni 2014_di Darul Hadits Al Fiyusy_Harasahallah.

~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~•~
 WA. FORUM KIS